Ungkapan Kecewa pada Suami yang Berubah
Ungkapan Kecewa pada Suami yang Berubah
Source : diedit.comAda rasa jenuh saat bertahan, namun ada sakit saat meninggalkan. Semoga kau mengerti isi hatiku, Suamiku..
Akan aku nantikan hari itu, dimana aku mendapati kamu telah mau berubah, atau aku bangkit karena telah terbiasa dengan kekecewaan.
Diamnya seorang istri bukan berarti membiarkanmu berbuat semakin menyakitiku dan semaumu, sungguh aku tak mengerti dengan jalan pikiranmu wahai suamiku.
Aku bahkan tidak ingat mengapa aku meneteskan semua air mata ini untukmu. Mungkin aku terlalu banyak menerima kekecewaan.
Orang yang kita sangka bijak, dewasa, dan pengertian kadangkala hanya tampak di permukaannya saja.
Rasanya aku sudah lelah dengan perilakumu akhir-akhir ini. Bagaimanapun aku berusaha untuk tetap mempercayaimu, namun sayang aku tak bisa menahan rasa kecewaku padamu.
Sayangku, haruskah aku kembalikan cahaya yang dulu pernah kau titipkan padaku? Karena kini sisi gelap ternyata lebih membuat hatiku tenang.
Suamiku, air mataku seperti jangkar yang menenggelamkan hatiku ke dalama samudera terdalam. Tidakkah kau ingin mengusapnya?
Kadang-kadang aku berharap bisa bangun tidur dan tidak ingat apa-apa lagi tentang kekecewaan yang kau hadirkan, Suamiku…
Aku akan meresapi semua makna di balik kenangan pahit yang kau berikan itu, dan akan kujadikan pelajaran untuk menuju masa depan yang lebih baik.
Aku hanya berharap aku bisa kehilangan perasaan perih ini, semudah kau mengecewakanku.
Hai para suami. Istrimu bukan bidadari, kau bukan malaikat. Engkau memiliki kekurangan, begitu pula istrimu juga punya kekurangan.
Bukan marah tapi kecewa, bukan tak peduli tapi cuma ingin dimengerti.
Air mata adalah kata-kata yang tidak bisa diungkapkan oleh hati. Suamiku, apakah kau mengerti perasaanku?
Biarlah bila memang apa yang telah kamu lakukan itu kamu anggap baik, aku hanya bisa berusaha tak berburuk sangka padamu.
Aku harus melepaskan harapan palsu ini, bahwa kamu akan berubah dan tidak mengingkari janji.
Suka dan gembira kemudian bisa menjadi duka. Begitu pula dengan kekaguman kemudian bisa menjadi kekecewaan.
Aku bertingkah seolah itu bukan masalah besar, padahal itu benar-benar menghancurkan hatiku.
Kepercayaan itu bagaikan sebuah kaca. Ketika dia rusak, kamu bisa memperbaikinya kembali. Namun kamu masih bisa melihat bekas retakannya.
Aku pernah punya seseorang yang membuat setiap hari berarti sesuatu. Dan sekarang, aku tidak bisa menemukannya. Dan tidak ada yang berarti lagi.
Suamiku, perasaan di dalam hatiku ini bukanlah sendal jepit yang selalu kau injak-injak.
Aku hancur berantakan, aku hampir tidak dapat bernafas, dengan patah hati yang masih berdetak.
Ekspektasi yang berlebihan padamu adalah akar dari semua rasa kecewa di hati ini.
Aku melakukan segalanya dengan benar untuk seseorang yang melakukan banyak kesalahan untukku.
Aku sangat lelah, meskipun air mata tidak lagi mengalir; mataku lelah menangis, hatiku muak dengan kenestapaan.
Antara mawar dan durinya, antara kesedihan dan kegembiraan, semuanya saling terkait.
Bahagia yang kuminta, tapi derita yang kau beri. Cinta yang kupinta, kecewa yang kau bagi.
Suamiku.., seperti sang pelangi malam, ia pun turut berduka dan memudarkan warnanya saat tahu dirimu tak mengerti aku.
Bantal adalah buku kesedihan yang kutulis dengan tinta air mataku.
Biarkanlah diri ini seperti karang, dan engkau sebagai ombaknya. Meskipun kau menggulung dan menghempaskan aku berkali-kali, namun aku akan tetap tegar melangkah dalam kenestapaan.
Suamiku, hanya karena aku cukup kuat untuk menangani rasa sakit, bukan berarti aku layak mendapatkannya.
Mengingat sikapmu itu membangkitkan pusara kesedihan di hatiku, membuat tetes demi tetes air mata jatuh dan begitu menyesakkan dada.
Sakit hati dan kecewa, tapi tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan itu.
Terkadang aku berharap aku kembali menjadi anak-anak, karena lutut yang terluka lebih mudah diobati daripada hati yang patah.
Komentar
Posting Komentar